RSS

PONGGOK DUSUN KELAHIRANKU

07 Jun
PONGGOK DUSUN KELAHIRANKU

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum WW.

Ponggok adalah tanah kelahiran saya, ini adalah sebuah dusun yang dihuni oleh satu kaum yang bersuku Pisang/Tanjung di Jorong Kubunan Limo Kanagarian Batipuah Baruah Kecamatan Batipuah Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat-Indonesia.

Secara geografis Ponggok yang terletak ditepi sunga Batang Arau lebih dekat ke Kota padang Panjang yang jaraknya hanyalah lebih kurang 4 km saja, dibandingkan dengan ke Batu Sangkar Ibu Kota Tanah Datar yang jaraknya lebih kurang 24 km.

Saat ini di Dusun Ponggok dihuni oleh 2 Suku yaitu Suku Pisang/Tanjung dan Suku Koto, masyarakat dua suku di ponggok ini satu sama lain saat ini telah bertalian kekeluargaan melalui perkawinan, jadi masyarakat disini umumnya adalah satu keluarga besar.

Kekerabatan kekeluargaan di Ponggok sampai saat ini masih sangat terjaga, masayarakat karean memanng asalnya adalah satu nenek dan makanya satu suku, dalam berbagai hal membangun nagari masyarkat masih bergotong royong dan dalam berbagai kegiatan selalu saja saling tolong menolong dengan memakai palsapah Minang “barek samo dipikua ringan samo dijinjiang, saciok bak ayam sadanciang bak basi”.

Untuk kegiatan Ibadah di Ponggok ini terdapat satu Surau yang bernama Nurul Falah Ponggok, surau ini dibangun melalui gotong royong, pada shalat magrib, isya dan subuh akan kita jumpai masyarakat tua muda berbondong bondong datang ke surau untuk menunaikan ibadah dan belajar mengaji.

__________________________________________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________________________________________

Engla, Tari, Ridha, Daus, Ica, Ika

Anak anak Afrijon Ponggok

__________________________________________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________________________________________

RIWAYAT SINGKAT AFRIJON PONGGOK

Saya adalah Anak kedua dari 8 bersaudara kandung dan 14 bersaudara se ayah.,

ORANG TUA:

Ayah kami Mansur Pakih Mangkuto

Ayah kami bernama Mansyur bergelar Pakiah Mangkuto dari suku Jambak yangjuga anak tertua dari 4 ber saudara yang berasal dari Jorong Kubu Nan Ampek Kanagarian Batipuh Baruh Kecamatan Batipuh Tanah Datar Sumatera Barat, nama Kakek kami dari ayah adalah Angku Andah orang memanggilnya, yang meninggal dunia sewaktu saya masih bayi, sedangkan nenek kami dari ayah bernama Lisah dan beliau meninggal dunia sewaktu saya masih berumur 4 tahun.

Ibu kami Nurmi

Ibu kami Jasna

Ibu kami bernama Nurmi dari Suku Pisang/Tanjung yang juga anak tertua dari 3 bersaudara yang berasal dari Jorong Kubu nan Limo Kenagarian Batipuh Baruh Kecamatan Batipuh Tanah Datar Sumatera Barat, kakek kami dari Ibu bernama Kiram Santan Batapih orang memanggilnya beliau meninggal dunia sewaktu saya masih berumur 7 tahun, sedangkan nenek kami dari Ibu bernama Lmina, beliau meninggal dunia pada tahun 1995.

Ibu kami yang kedua (Istri kedua Ayah kami) bernama Jasna bersuku Penyalai dari Jorong Tangah Dua Puluh Kenagarian Padang Lawas Malalo Kecamtan Batipuh Selatan Tanah Datar Sumbar (adik kandung dari KH Buya Taharuddin Labai Sutan, Kiyai 2 Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo)

Ayah kami bersekolah hanya tamat sekolah Rakyat (SD) sedangkan Ibu hanya Tamat SMP, menurut mereka ini desebabkan pada masa itu banyak terjadi konfilik dan pergolakan taermasuk juga masa-masa transisi pemerintahan, namun kedua orang tua kami adalah orang-orang yang cerdas sehingga mereka termasuk orang yang berpikiran maju dan dapat mendidik kami dengan baik, walaupun hanya tamat SD dan SMP tetapi pengetahuannya melebihi orang tamat SMA dizaman saya.

Walaupun ayah kami beristri dua namun kehidupan kami sangat rukun dan damai, baik kedua ibu kami maupun kami sebagai anak-nanaknya, ayah kami cikup bijak dan pandai menyatukan kami semua walau dalam kehidupan berkekurangan sekalipun.
__________________________________________________________________________________________________________________

SAUDARA :

Dari 14 bersaudara kami yang hidup tinggal 11 orang dan saya menjadi anak yang tertua dalam keluarga karena pada usia 13 tahun kakak kami yang tertua meninggal dunia dan dua orang lainnya sauddara kami meninggal pada waktu masih bayi.

Walaupun kami dilahirkan dari rahim yang berbeda namun kami tidak pernah membedakan saudara dan ke tiga orang tua kami bagi kami semua kami adalah bersaudara kandung dan bagi kami ayah dan kedua ibu adalah sama, itulah yang diajarkan oleh ayah kami, kerukunan kekompakan saling pengertian satu sama lainnya.

Karena yang hidup saya adalah anak yang tertua maka saya harus menjadi komando dan pembimbing bagi adik adik saya semua tidak jarang saya selalu ikut membantu ayah dan ibu kami dalam memenuhi kebutuhan kami semua, karena itu pulalah saya menjadi orang yang terlatih dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan hidup, ayah kami selalu mengajarkan kepada kami agar kami harus siap menghadapi hidup yang terpahit sekalipun, walapun sepengetahuan saya kamai tidak pernah mengalami terlalu sulit kehidupan karena sudah terlatih untuk bekerja keras.

Afrijon Ponggok Bersaudara

Dari Kiri ke kanan : Afrijon Ponggok, Masrijon, Armaizon, Yuliasman, Gusri Gusmianto, Habiburrahman (dari Ibu Nurmi) Halmi, Jusmiati, Surrahman, Delmadi, Gusti Sri Wahyuni (dari Ibu Jasna)

__________________________________________________________________________________________________________________

MASA KECIL (PRA SEKOLAH)

Pada waktu masih bayi saya sudah diboyong oleh orang tua kami merantau kecil dari Kenagarian Batipuh Baruk ke Kenagarian Padang Lawas Malalo, ini disebabkan sedikitnya peluang usaha dan terbatasnya sawah dan tanah yang akan digarap di Batipuh.

Padang Lawas Malalo adalah kampung halamanku yang lebih ku kenal karena disinilah aku dibesarkan dan diasuh menghadapi kehidupan ini oleh orang tua kami, disinilah aku tumbuh dan berkembang bersama teman sebaya dan seluruh lapisan masyarakatnya yang sangat ramah tamah, Bagiku kampungku adalah Padang lawas Malalo bukan Batipuh, batipuh hanyalah sekedar negeri asal orang tuaku karena disini masih sangat banyak family dan karib kerabatku.

Sebagai orang Minang wlaupun kami hanya merantau kecil namun kami tetap memenuhi tututan adat istiadat Minang yaitu kalau merantau ke negeri Minang maka kita hatrus malakok (melekat) kepada suatu suku di negeri itu, ini gunanya adalah agar kita bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan masyarakat lainnya, agar kita juga ada mamak kepala adat / kepala suku untuk menaumi dan mengayomi kita, jadi karena di Padang Lawas Malalo tidang ada suku Pisang atau Tanjung maka kami melekat ke Suku Sikumbang/Sumagek sedangkan ayah kami karean di sini aada suku Jambak maka beliau tetap melekat ke suku jambak, dan sejak saat itu jadilah saya ibu dan adik-adik saya anak kemenakan Suku Sikumbang dibawah payung Datuk Rajo lelo dan Pengulu kaum Datuk Sinaro nan Putih.

Sebelum masuk SD saya sudah diajarkan oleh orang tua kami bertani dan beternak, masing masing kami anak-anaknya sudah dibagi tugas dan tanggung jawab masing masing dalam keluarga termasuk dalam memasak menyiapkan makanan untuk keluarga, usia 5 tahun saya sudah diajarkan bagai mana mencangkul sawah, mengembala ternak seperti sapi, kerbau, mencari makanan kambing dll.

Karena profesi ketiga orang tua kami adalah petani tulen maka kamipun tinggalnya di sawah bukan diperkampungan masyarakat yang bayak, kami tinggal dilereng sawah dikaki bukit yang sejuk dan indah didepan pondok kami terbentang persawahan yang subur dan diujungnya terhampar danau Singkarak yang menawan, setiap hatu kami dihibur dengan kicauan burung-burung yang beragam serta nyanyian hutan dan semak belukar yang ditiup angin, ketenangan, kedamaian, kesejukan, keharmonisan dan kerukunan yang tidak ternilai harganya yang saya rasakan, rasanya sekarang saya pingin kembali kemasa-masa itu.

Bila sore menjelang maka kami bersiap-siap menutup berbagai kegiatan dan aktifitas masing-masing yang sudah ada tanggung jawabnya, seperti memasak, membawa ternak kekandang, mencuci berbagai peralatan kerja dan kami siap mandi untuk bersih-bersi di air pencuran samping pondok yang sangat jernih dan sejuk, magrib datang kami Shalat berjamaah yang dipimpin ayah kami, Ayah yang kami Panggil Abak adalah seorang Qari dengan suara yang sangat merdu, diwaktu muda beliau juga guru mengaji dikampung asalnya (Jorong Kubu Nan Ampek Batipuh) sehingga menjelang akhir hayatnya beliau tetap aktif sebagai muballigh kemana saja beliau pergi dan karena jiwa itu pulalah yang menurun kepada kami semua.

Setelah selesai Shalat magrib kami selalu makan bersama dibawah cahaya lampu teplok penuh tawa dan senda gurau karean ayah kami termasuk orang yang sangat humoris, kadang-kadang sambil makan beliau menasehati kami dalam berbagai hal. selasai makan kegiatan dilanjutkan dengan belajar mengaji yang ayah kami jadi gurunya, sedangkan kalau ayah kami tidak ada maka ibu kami yang mengajarkami mengaji kerena kedua orang tua kami adalah orang yang fashih mengaji, saya tidak pernah belajar mengaji kepada orang lain selainkepada kedua orang tua kami.

Setelah selesai mengaji ayah kami mengajarkan kami bacaan dan cara shalat, mulai dari bersuci, berudhuk, kaifiat dan bacaan shalat yang kemudian ditupup dengan shalat ‘Isya berjamaah, sebelum tidur biasanya ayah kami meminta kami untuk memijit kaki dan tangannya dulu, pada saat itu ayah kami selalu bercerita berbagai hikayat baik itu cerita Nabi-nabi, maupun cerita-cerita rakyat yang sampai saat ini masih banyak melekat di kepala saya dan kadang kadang beliau bercerita lucu-lucu dan tak jarang pula memberi nasehat kepada kami dari berbagai hal, mulau adat minang, agama, akhlak pergaulan, usaha dll.
__________________________________________________________________________________________________________________

MASA SEKOLAH

1. Masa Sekolah Dasar

Pada zaman saya kecil Sekolah TK sangat langka dikampung kami Padang Lawas Malalo tidak ada sekolah TK pada waktu itu, jadi kami lansung masuk sekolah SD, jarak daari pondok tempat tinggal kami ke SD yang ada di Padang Lawas Malalo lebih kurang 3,5 km, jadi kami harus berjalan setiap harinya pulang pergi sekitar 7 km, SD kami adalah SD No.04 Malalo di SD ini saya mulai belajar menulis dan membaca dan disini pula saya mulai mendapatkan teman-teman baru sebaya, sejak itu pulalah saya baru mengenal bermain sesama besar dengan berbagai permainan, dari hari kehari teman saya mulai bertambah dan semakin akrap, selesai sekolah saya harus segera pulang karena harus membantu orang tua kami bekerja di sawah maupun di ladang serta pada sore harinya mengurus ternak-ternak kami, pada malam hari dilanjutkan dengan mengaji yang diajar orang tua kami.

Kesempatan bermain bagi saya hanyalah ketika waktu istirahat sekolah selain itu untuk belajar dan bekerja membantu orang tua, semakin hari dan semakin tahun kami semakin mahir bertani seperti mencangkul, membajak sawah dengan sapi atau kerbau, menanam padi dan palawija, merawat tanaman, dan sampai memanennya.

Disela kegiatan bertani dan berkebun pada hari minggu dan hari libur lainya saya diajak oleh ayah kami pergi kehutan untuk mencari berbagai hasil hutan seperti damar (kemir), kopi hutan, rotan, sampai kepada kayu untuk kkebutuhan rumah sesuai pesanan orang kampung sehingga say juga mahir dalam mengolah kayu secara manual sebelum ada gergaji mesin, tidak jarang juga kami bermalam dihutan untuk mengefektifkan kegiatan kerena untuk sampai dihutan yang dituju kadang-kadang kami harus berjalan kaki selama 2-3 jam baru sampai ditempat tujuan.

Kegiatan kehutan ini bagi saya adalah rekreasi yang sangat menyenangkan, dengan berjalan kaki membawa perbekalan yang disiapkan ibu, kami berjalan melalui lereng-lereng bukit yang berhutan kadang kadang belukar lalang yang lebat, menyeberangi sungai yang airnya mengalir jernih, meniti pohon untuk melewati jurang-jurang kecil,kadang kadang berpegang pada akar-akar kayu yang besar, sering pula kami bertemu kambing hutan, rusa, babi hutan dll.

Saya diajarkan berbagai jenis dan nama kayu oleh ayah kami, diajarkan juga bagaimana memilih kayu yang baik untuk dipakai membuat bangunan rumah, disamping itu didalam perjalanan ayah kami selalu memberitahukan kepada saya berbagai jenis tanaman obat-obatan tradisional karena ayah kami memang juga ahli pengobatan trddisional makanya kami waktu kecil tak pernah kenal dengan dokter dan rumah sakit, sakit apa saja ayah kamilah yang mengobati bahkan tidak sedikit pula orang lain yang berobat kepada ayah kami.

Ayah kami termasuk orang yang sangat disiplin terhadap pendidikan kami beliau selallu mengontrol kamai setiap saat, apabila suatu ketika saya mendapat nilai yang tidak bagus maka belaiu akan marah besar, namun ayah kami juag orang yang sangat keras dalam mendidk kami terlambat sedikit saja pulang sekolah maka kami akan mendapatkan hukuman dengan dicambuk pakai lidi atau rotan yang memang sudah disiapkannya apalagi kalau tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab yang telah disepakati.

Waktu masuk SD saya masih belajar pakai batu tulis sampai kelas 2 SD, kelas 3 sampai 6 sudah pakai buku tulis namun sangat minim dengan buku bacaan pada waktu itu namun karena rajin dan giat belajar kelas 2 SD saya sudaah mahir dan lancar membaca, dan sejak pandai membaca saya selalu mengumpulkan potongan-potongan koran dan buku-buku bbekas yang bisa dibaca.

Karena setiap hari dilatih bertani oleh orang tua kami maka setelah kelas 4 SD saya tidak lagi sekedar mengarap atau mengerjakan sawah sendiri akan tetapi sudah mulai diajak orang tua kami pergi mengerjakan atau menggarap sawah dan ladang orang lain, baik itu menggarap sawah sebelum ditanam maupun memanen setelah sampai waktunya, hasil yang didapat dari mengambil upah disawah atau kebun orang lain ini dipergunakan untuk keperluan kami bersama dan sebahagian untuk keperluan sekolah dan pakaian saya, sedangkan untuk jajan kami masih dibatasi dan dijatah hanya sekali seminggu yaitu pada hari pasar dikampung kami Malalo yaitu pada hari selasa selain itu kami tidak pernah jajan disekolah kecuali dikasih teman-teman sebaya.

Disekolah SD saya tak pernah dapat juara 1 namun selalu berada pada 5 besar, ini disebabkan bukan sya tak pintar atau malas belajar namun dikarenakan fulnya aktifitas dari pagi sampai malam, bayangkan saja pagi-pagi stelah shalat subuh saya harus mengeluarkan ternak sapi dulu ke padang rumput, setelah itu mandi dan sarapan pagi baru berangkat sekolah dengan berjalan kaki yang lumayan jauh, pulang sekolah makan siang dan sahalat zohor dilanjutkan bekerja disawah atau di ladang, setelah shalt ashar pergi mencari makanan ternak yang dilanjutkan membawa ternak pulang kekandangnya, menjelang magrib kadang-kadang memasak nasi dan mandi, habis makan malam belajar mengaji dan dan membuat PR kalau ada menjelang tidur memijit orang tua sambil mendengarkan cerita dan nasehat-nasehatnya, subuh bangun lagi dan seterusnya begitu.

KKelas 5 SD saya sudah mulai membeli pakaian dan keperluan say lainnya dari hasil keringat sendiri ini adalah berkat bimbingan dan latihan yang diberikan oleh orang tua kami kalau sebelumnya saya beli banju hanya sekali setahun maka pada kelas 5 saya sudah bisa beli baju sekolah 2 kali dan baju lebaran sekali, dan sudah tetap pakai sepatu kesekolah, sebelumnya sering tak pakai sepatu dari pakai sepatu walaupun guru-guru saya sangat memakluminya, sejak saat itu pula saya lebih disiplin dengan waktu tanpa dimarah oleh orang tua walaupun waktu untuk bermain tetap tidak ada karena pekerjaan dan kegiatan rutin yang diberikan oleh orang tua kami namu kami sangat senang dan enjoi melaluinya.

PPada waktu kelas 6 SD menjelang ujian akhir Abang saya (kakak kami yang tertua) meninggal dunia yang kebetulan kami sama-sama sekelas sejak kelas 4 SD karena Aalmarhum pernah tinggal 1 tahun, peristiwa ini membuat keluarga kami sangat terpukul terutama ayah dan ibu saya karean almarhum juga meruapkan tulang pungguk keluarga dalam bekerja, kami mempunyai tugas yang berbeda denga almarhum tetapi beliau lebih duluan mandiri dari pada saya wlaupun kami masih SD, almarhum adalah anak yang sangat berbakti kepada orang tua kami dan sangat menyayangi dan mengayomi kami adik-adiknya almarhum mau mengalah demi kami adik-adiknya.

Saya merasa sangat kehilangan alamarhum abang saya karena beliau adalah kakak saya satu-satunya dan sekaligus teman bermain saya dalam berbagai suka dan duka walaupun kadang-kadang kami sering juga berkelahi dan bertengkar keci-kecilan, karena kami sekelas maka kami selalu kompak dalam berbagai hal termasuk mencuri-curi waktu untuk bermain, salah satu maka kami salah berdua, diamarah satu maka kami tanggung jawab berdua, dia anak yang kuat sedangkan saya anak yang lemah dan dialah yang selalu melindungi saya dari berbagai gangguan termasuk dari gangguan anak-anak yang jahat dan nakal, dia adalah anak yang sangat penyabar diahdapan orang tua kami namun pemberani kalau diluar sehingga dia disegani teman-teman sebaya kami, sering kami pergi berdua pada malam hari untuk menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional yang diselenggrakan oleh desa tetangga seperti acara Randai di Dua Koto Malalo, acara rabab pesisir selawat dulang dll, sedangkan sebelum pagi kami sudah harus sampai lagi di rumah.

Pernah suatu ketika pada waktu kelas 4 SD kami ingin sekali pergi melihat acara pacu kuda di kota Padang Panjang tapi tidak mendapat izin dari orang tua namun kami sepakat nekat kabur dari rumah dan kami pergi dengan berjalan kaki tanpa uang sepeserpun ditangan melakukan perjlanan yang sangat jauh dari Malalo ke Padang panjang dengan maksut akami akan mampir dulu di Batipuh ditempat nenek dan bibik kami, namun baru saja sampai di kenagarian Sumpur (setengah perjalanan) ayah kami datang mengejar kami dan mendapatkan kami, kami dimarahi sejadi-jadinya kaeran tidak mengindahkan larangannya dan kami dibawa lagi pualng dengan berjalan kakki karena pada waktu itu kendaraan umum memang sangat jarang sekali, akhirnya kami pulang kembali dengan penuh kekecewaan dibawak kemarahan orang tua kami, sambil berjalan abag saya mengatakan kepada saya kita sabar saja ya suatu saat kita pasti bisa melihat pacu kuda katanya menyabarkan saya.

Abang saya tak pernah menangis ketika dimarahi ayah saya walaupun badannya sudah babak belur kena cambuk sedangkan saya selalu menangis ketika dihukum oleh orang tua kami, namun sangat disayangkan umurnya terlalu pendek dan terlalu cepat dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

__________________________________________________________________________________________________________________

2. Masa SLTP

Setelah tamat SD saya melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Padang lawas Malalo masih dikampung tempat kami tinggal walaupun kami masih tetap tinggal disawah, akatifitas pekerjaan saya semakin banyak apalagi abang saya yang dulunya kami bisa berbagi sudah tiada, selain mengerjakan sawah dan ladang sendiri saya sudah mulai mendapatkan orderan pekerjaan sendiri untuk menggarap sawah orang lain sepulang sekola, kadang kadang saya bekerja sama dengan teman sekolah yang nasipnya sama untuk bergantian mengerjakan sawah-sawah kami.

Di Madrasah ini saya lebih fokus belajar agama dan saya paling hobi kalau ada kegiatan Muhadharah (latihan berpidato / ceramah) sehingga pada waktu kelas 2 Tsanawiyah saya sudah bisa menjadi Khatib pada shalat jumat, dan pada waktu sudah di Tsanawiayah ini ayak kami semakin sering membawa saya untuk mengerjakan pekerjaan mengambil upah di sawah atau ladang orang, dan semenjak abang saya meninggal pemerah ayah kami sidah banyak menurun, malah beliau lebih banyak memperlakukan saya sebagai mitra kerja, bayangkan saja beliau pada waktu itu hanya merokok merek KANSAS sedangkan saya dibelikan rokok merek GUDANG GARAM, ini dimaksutkan beliau supaya saya lebih rajin sekolah dan bekerja.

Dalam waktu-waktu tertentu kami tetap juga pergi kehutan untuk mencari berbagai hasil hutan yang dapat dijadikan duit yang penting hidup bisa berubah, ayah kami adalah orang yang paling bersemangat untuk maju dan membuat perubahan makanya beliau selalu mengajarkan kepada kami anak-anaknya untuk bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas.

Pada saat kelas 2 Mts sbenarnya saya sudah mulai tertarik kpeda wanita, ingin pula rasanya membangun cinta seperti teman-teman sebaya namun karena pekerjaan saya bertani sambil sekolah rasa minder saya lebih tinggi dari keinginan menyampaikan rasa suka kepada seseorang, bayak wanita yang saya sukai ada teman sekelas, adik kelas kakak kelas maupun anak-anak yang sekolah ditempat lain, namun keinginan itu pupus setelah mengukur diri kembali. Pernah bebrepa kali saya telah coba menulis surat untuk menyampaikan rasa cinta itu seperti yang dilakukan oleh teman-teman saya namun surat itu lusuh dan hancur dikantong karean tak pernah kesampaian, berbagai uantaian kata-kata mutiara dan pantun sudah saya susun namun semua itu kandas diatas kertas yang tak pernah berani saya kasihkan, maka jadilah di CINTA TERPENDAM, rasa cinta yang hanya saya rasakan sendiri namun tidak berani untuk mengungkapkannya dan mereka itu juga tidak pernah tau kalau saya mencintainya.

Selama di Mts hari-hari saya habiskan untuk sekolah dan bekerja mancari uang untuk keperluan kami sekeluarga dan untuk keperluan sekolah saya sendiri, sedangkan untuk bermain dan dan dekat dengan teman perempuan seperti anak-anak lainnya sudah tidak terpikirkan lagi karena semakin besar sibuk dan rasa minder saya semakin besar, dalam hati saya saya ini hanyalah akan taeatap jadi petanimaka untuk itu saya lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan bertani saya dari pada yang lain-lainnya apa alagi saat ini saya adalah anak yang tertua dalam keluarga kami.

____________________________________________________________________________________________________________________

3. Masa SLTA

Setelah tamat MTs rencana saya tidak akan melanjutkan sekolah lagi ketingkat SLTA karena saya akan lebih menekuni pertanian apa lagi melihat kondisi keluarga kami yang masih paspasan dan adik-adik saya masih banyak yang membutuhkan biaya, saya berniat akan fokus untuk mencari uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan kami dan persiapan masa depan yang lebih baik malalui pertanian dikampung karean menurut hemat saya sangat bannyak potensi alam yang belum tergarap dengan baik di Padang lawas malalo ini ini ditunjukkan dengan banyaknya lahan terlantar dan banyak potensi hutan yang tidak tergarap dengan baik, namun untuk mengambil keputusan itu saya harus berdiskusu dulu dengan ayah kami.

Dari diskusi saya dengan ayah kami dibawah sebuah pohon Jambu Keling (Batang jambu yang buahnya kalau masak hitam dan sangat manis, buah kesukaan orang kampung kami) yang terletak di Sawah Lurah Padang Lawas Malalo ayah kami menyarankan agar saya tetap melanjutkan sekolah ketingkat SLTA, ayah saya menasehati saya “yang penting kamu berniat tulus dan ikhlas untuk sekolah Insya Allah – Allah akan membukakan jalan untukmu” namun karena memikirkan keluarga dan kasihan dengan orang tua sementara adik-adik saya cukup banyak maka saya tetap berkeras untuk tidak lanjut sekolah, tapi ayah saya menangis meminta agar saya tatap mau melanjutkan sekola, “mau jadi siapakah kamu kalau besar kata ayah saya, apakah kamu tidak akan menyesal dan iri melihat teman-teman kamu melanjutkan pendidikan katanya, saya mengajar kalian bertani bukan untuk jadi petani melainkan agar kalaian tau bagaimana susahnya jadi petani dan agar kalian siap dalan kondisi terpahit sekalipun kata ayah saya sambil menangis” melihat ayah saya menangis menyuruh sekolah maka hati sayapun terbuka untuk sekolah, walaupun sebenarnya jauh sebelumnya saya sudah membangun impian untukmbersekolah lebih lanjut namun karena saya anak yang tertua saat ini maka saya harus mengalah, namun ayah saya tetap mengingikan saya melanjutkan sekolah.

Pada saat makan malam kami diskusikan lagi dengan Ibu dan adik-adik saya dirumah dan semuanya sepakat saya akan melanjutkan sekolah ketingkat SLTA, dan yang menjadi pilihan adalah Perguruan Thawalib Padang Panjang, sebuah pesantren yang sangat terkenal tidak hanya di Sumatera malah sampai ke Manca Negara.

Untuk masuk ke Pondok Pesantren ini saya melalui adik Ipar ayah saya yang memang tinggal di Padang panjang dan punya hubungan yang baik dengan guru-guru dan pengelola pondok, setelah segala persyaratan dilengkapi dan diserahkan ke pondok Perguruan Thawalib alhamdulillah saya diterima sekolah disini, dan betul saja kata ayah saya diawal masuk saja sudah datang pertolongan Allah karean saya tergolong putra daerahh maka Perguruan Thawalib memberikan garatis kepada putra daerah yang mendaftar dan mau bersekolah disitu, maka jadilah saya bebas dari biaya sama sekali baik uang pendaftaran maupun uang sekolah.

TINGGAL DI RUMAH FAMILI

Pada awal sekolah di Kota Serambi Mekkah ini saya memilih tinggal dirumah saudara sepupu ayah saya, tidak tinggal di asrama perguruan, ini dikareanakan untuk hemat-hemat biaya, kalau tinggah di rumah famili kurang-kurang sedikit biaya kan bisa nebeng apa lagi pada waktu itu anak-anaknya masih kecil-kecil.

Sealama tinggal dirumah famili setiap hari Kamis sore saya kembali ke tempat orang tua ke Padang Lawas malalo dan pada sabtu pagi baru kembali lagi Padang Panjang (di Perguruan Thawalib Padang Panjang libur sekolahnya hari Jumat) dengan membawa bekal secukupnya, dan pada hari jumat itu dapat saya pergunakan memnatu orang tua bekerja di sawah.

CINTA MONYET

Setelah tig bulan menjalani rutinitas pagi belajar di pondok, siang pulang kerumah famili tanpa ada kegiatan seperti sebelumnya membuat saya tidak nyaman karena biasa bekerja sepulang sekolah sekarang tinggal santai-santai saja, walaupun juga sudah saya coba untuk bermain dengan teman-teman sekolah dan dilingkungan tempat tinggal namun tetap saja membuat saya tidak nyaman karena sudah terbiasa bekerja sepulang sekolah, boleh dikatakan membuat saya seperti orang yang kebingunan disaat pulang sekolahh hanya bermain-main saja, walaupun sebenarnya pada saat ini saya juga sudah mulai tertarik dan dekat dengan seorang gadis sebaya anak tetangga sebelah rumah yang bersekolah di sebuah SMA dikota ini, namun itu tak cukup untuk perintang hati melalui hari-hari yang cukup panjang saya rasakan, pada hal sepulang sekolah menjelang shalat ashar kami selalu berdiskusi tentang pelajaran umum disekolah masing masing, setelah ashar dia pergi membantu ibunya memasak dan saya kembali kdunia kebingungan, menjelang shalat magrib kami selalu bersama-sama pergi ke masjid untuk shalat magrib berjamaah,mendengarkan pengajian dan setelah selesai shalat isya kami pulang dan belajar lagi dirumah masing masing.

Dengan Dara manis SMA anak tetangga ini kalau dibilang pacaran kami bukan pacaran, tapi kalau dibilang hanya berteman agak lebih dari itu, ya teman-teman tapi mesralah kata anak-anak muda zaman sekarang, apa lagi kami adalah tetangga bersebelahan rumah, dia anak yang baik, cantik, rajin, sederhana, rapi, sopan, patuh kepada orang tua dan yang paling penting taat beribadah, selalu shalat diawal waktu, kalau bagi saya boleh dikatakan inilah cinta monyet saya, dialah teman dekat wanita saya yang pertama, dan kepada dialah isyarat cinta pertama saya sampaikan walaupu dalam ketidak percayaan diri yang tinggi, namun menurut perasaan saya gayung bersambut dan itupun dia yang lebih dulu berani memulainya, walaupun hubungan dekat kami tidak berjalan terlalu lama karena dia pindah sekolah ke kota Padang.

TINGGAL DI MASJID

Yang membuat say lebih tidak nyaman pada masa-masa itu adalah setiap pulang ke Padang Lawas Malalo ketika akan kembali berangkat sekolah pada hari sabtu pagi orang tua saya harus berusaha menyiapkan bekal dan uang saku seperlunya untuk saya, padahal sbelumnya saya sudah terbiasa tidak minta dan terima uang dari ayah dan ibu saya, oleh sebab itu pada bulan ke empat besekolah di Kota Padang Panjang saya mulai berusaha mencari pekerjaan dan kegiatan sampingan, langkah pertama saya harus keluar dulu dari rumah famili supaya agak bebas sedikit dan tidak memganggu kenyamanan famili tempat saya menumpang, tempat yang saya pilih adalah tinggal di rumah penjaga masjit yang tidak jauh dari tempat tinggal saya sebelumnya yaitu di Masjit Syatariah Balai-balai Padang Panjang yang kebetulan dikomplek masjid ini juga ada madrasahnya, saya cukup dekat dengan guru-guru, pengurus dan murit-murit madrasah ini.

Saya tinggal di komplek masjid itu namun kadang kadang makan tetap saja kerumah famili tempat tinggal sebelumnya, kadang-kadang kami memasak bersama penjaga masjit dan murit-murit madrasah lainnya yang juga tinggal disitu, hari hari kami lewatkan dengan penuh canda dan gurau pagi bersekolah, siang bermain dan belajar dan yang paling indah kami selalu shalat berjamaah.

SAMBIL SEKOLAH BEKERJA SEBAGAI TUKANG SAPU PASAR

Karena dasar saya yang ingin berpenghasilan sendiri akhirnya saya berkenalan dengan seorang teman yang sekola di SMA sore Padang Panjang, sekolah ini tidak jauh dari tempat tinggal saya yaitu di kawasan Bancah Laweh tempat gelanggang pacuan kuda, dia ini ternyata masih saudara dari suami salah satu bibi saya asal Batu Sangkar, teman baru saya ini disamping sekolah dia bekerja pada malam hari sebagai petugas kebersihan pasar di Dinas Pasar Padang Panjang, cerita punya cerita dengan penghasilan yang lumayan untuk ukuran anak sekolahan seperti saya akhirnya saya ikut bersama sahabat saya ini bekerja sebagai petugas kebersihan pasar alaias tukang sapu pasar pada malam hari.

Pekerjaan menyapu dilakukan mulai pukul 21.00 setelah semua pedagang pulang, hitungan yang dikerjakan adalah per blok, untuk satu blok kita akan dapan penghasilan Rp.30.000,- per bulannya, saya mendapatkan bagian 2 blok maka penghasilan saya sebulannya Rp.60.000,- penghasilan yang lumayan besar pada waktu itu untuk anak sekolah apa lagi hanya paroh waktu, untuk menyelesaikan pekerjaan 1 blok itu dengan teknik yang bagus akan memakan waktu 1,5 jam jadi saya hanya bekerja 3 jam saja sehari, jam 00.00 Wib kami sudah pulang untuk istirahat karena besok pagi harus sekolah.

Dalam menjalani profesi sebagai petugas kebersihan (tukang sapu) di pasar ada juga rasa malu dan minder saya takut dilihat orang kampung, famili atau kepergok teman-teman sama sekolah, hal ini kami atasi dengan menutup muka dan kepa pada waktu nyapu, dan ternyata memang sangat banayk orang kampung saya, teman-teman sekolah dan sepermainan maupunorang-orang yang saya kenal lalulalang didepan saya sewaktu menyapu pasar itu, tetapi untung muka saya tertutup kain dan mereka tidak pedului dengan situkang sapu seperti saya.

Pekerjaan menyapu saya lakoni selam 3 bulan kemudian saya berhenti karean saya pindah tinggal ke kampung saya di Ponggok Batipuh baruh diminta oleh orang kampung untuk mengajar anak-anak mengaji disana, sedangkan teman saya yang satu lagi masih tetap melanjutkan pekerjaannya sambil sekolah entah sampai kapan dia berhenti yang saya tau begitu tamat SMA dia dapat jadi pegawai honorer di BRI yang kemudian menjadi karyawan BRI, sukses buat sahabat saya sependeritaan jadi tukang sapu.

Selama tiga bulan jadi tukan sapu soar asmara sudah tidak terpikirkan lagi karena waktu sudah habis, pagi samapi siang sekolah, sore belajar, dan malam bekerja, ditambah lagi teman dekat saya sudah pindah sekolah ke kota Padang mungkin dia sudah mendapatkan pula laki-laki yang pantas dan lebih baik dari si tukang sapu seperti saya, untuk memulai lagi dengan yang lain saya merasa tidak percaya diri.

Satu hal yang sangat saya syukuri adalah sejak mulai terima gaji pertama dari pekerjaan menyapu saya tidak lagi memberatkan orang tua saya, segala keperlua saya sudah bisa beli sendiri kembali, setiap pualang ke Malalo ketempat orang tua saya saya sdah bisa beri adik-adik saya uang jajan, walaupun sebenarnya Bapak saya agak marah dengan tindakan yan saya lakukan untuk menjadi tukang sapu ” abak akan malu dengan orang katanya kalau sampai ketahuan kamu menjadi tukang sapu padahal saya masih sanggup untuk membiayai sekolahmu katanya” Saya katakan kepada orang tau saya saya bekerja sambil sekolah bukan lantaran orang tua tidak mampu atau tidak mau membiayai sekolah saya namun adalah karean saya ingin mandiri seabgai mana saya tealah didik dari kecil untuk bekerja keras.

SAMBIL SEKOLAH MENJADI GHARIM DAN MENGAJAR MENGAJI

Semenjak saya tinggal di Ponggok yang merupakan kampung asal ibuk saya disini saya dipercaya untuk mengajar anak-anak mengaji serta menjadi imam di Mushalla kampung kami ini, sebagai imbalan saya diberi honor yang cukup oleh pengurus musahlla apa lagi masyarakat disini semuanya adalah famili dekat saya mereka semua sayang pada saya dan saya tinggal dirumah Bibi saya yang saya panggil Etek karean beliau adalah adik kandung Ibu saya yang dari saya kecil beliau sudah sangat sayang sama saya, Etek selalu menangis kalau kami kena marah oleh Bapak atau Ibuk.

Tugas rutin saya dikampung adalah menghidupkan lampu petromak, azan subuh dilanjutkan shalat subuh, berangkatt sekolah, sore menghidupkan lampu petromak lagi dilanjutkan azan dan shalat magrib, habis magrib mengajar anak-anak mengaji, azan dilanjutkan shalat isya, kemudian saya menambah belajar adat dengan yang tua-tua dikampung, begitulah setiap hari pekerjaan rutin sya lakukan.

 
Komentar Dinonaktifkan pada PONGGOK DUSUN KELAHIRANKU

Ditulis oleh pada Juni 7, 2011 in Uncategorized

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: